Adhi Makayasa dan Tentara Darah Biru

Adhi Makayasa
Sumber: republika.co.id

Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/385 /IV/2020 tentang pemberhentian dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI. Salah satu keputusan menariknya adalah munculnya nama Komandan Komando Resor Militer (Korem) Wijayakrama, Kodam Jayakarta, Tri Budi Utomo.

Sesuai dengan validasi organisasi, Korem yang membawahi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, Tangerang, dan Tangerang Selatan itu, menjadi Korem tipe A. Komandannya berpangkat brigadir jenderal. Maka dalam hitungan hari, Tri Budi Utomo akan naik pangkat menjadi brigjen.

Apa yang menarik? Inilah lulusan termuda yang dipercaya menjadi Komandan Korem tipe A. Ia perwira Korps Infanteri dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Menjadi orang pertama abituren (lulusan) Akademi Militer (Akmil) 1994, menembus golongan perwira tinggi (pati).

Komandan Korem tipe A, yang paling senior abituren Akmil 1987. Termuda Akmil 1994. Dengan pangkat barunya, Brigjen Tri Budi Utomo sekaligus melampaui dua lulusan terbaik Akmil 1994.

Peraih Adhi Makayasa Akmil 1994, Kolonel (Zeni) Sapto Widhi Nugroho. Kini menjabat Komandan Pusat Pendidikan (Danpusdik) Zeni. Peraih Tri Sakti Wiratama Akmil 1994, Kolonel (Arhanud) Syaepul Mukti Ginanjar. Sebelum ada mutasi Apri 2020, jabatannya Danpusdik Arhanud.

Adhi Makayasa diberikan kepada lulusan Akademi TNI/Polri yang memiliki prestasi terbaik dari aspek akademis, jasmani, dan kepribadian. Akumulasi dari mulai calon prajurit taruna sampai tingkat akhir.

Tri Sakti Wiratama diberikan kepada lulusan Akademi TNI/Polri dengan prestasi terbaik dari tiga aspek (akademis, jasmani, kepribadian), namun hanya pada tingkat terakhir pendidikan. Tidak semua peraih Adhi Makayasa sekaligus meraih Tri Sakti Wiratama. Memang banyak juga peraih Adhi Makayasa sekaligus meraih Tri Sakti Wiratama.

Lulusan terbaik Akmil 1992, juga baru meraih pangkat brigjen pada Mei 2020 ini. Peraih Adhi Makayasa Akmil 1992, Brigjen Erwin Djatniko (Kavaleri). Peraih Tri Sakti Wiratama, Brigjen Adisura Firdaus Tarigan (Zeni).

Keduanya sama-sama menjadi Wakil Asisten Perencanaan dan Anggaran (Waasrena) Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Erwin bidang perencanaan. Adisura Tarigan bidang pengendalian.

Sementara dua rekannya, sudah meraih pangkat mayor jenderal (mayjen). Maruli Simanjuntak sejak November 2018 lalu sudah menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Jabatan itu untuk pangkat mayjen.

Begitu juga dengan Richard Tampubolon. Pada akhir 2019 lalu, ia menjadi  Kepala Staf Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kaskogabwilhan I) TNI. Jabatan untuk mayjen. Baik Maruli Simanjuntak maupun Richard Tampubolon sama-sama berasal dari Korps Infanteri. Berlatar belakang Kopassus.

Perwira Trible
Ada pun peraih Adhi Makayasa sekaligus Tri Sakti Wiratama Akmil 1993, Brigjen Bambang Trisnohadi. Kini menjabat Kepala Staf Kodam (Kasdam) Cendrawasih. Ia juga berasal dari Korps Infanteri, berlatar belakang Kopassus.

Ia dikenal sebagai perwira yang cerdas. Bukan cuma lulusan terbaik Akmil 1993 saja. Ia juga lulusan terbaik Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) tahun 2008. Juga lulusan terbaik Sesko TNI tahun 2017. Sangat jarang perwira yang bisa meraih prestasi seperti itu.

Yang lebih dahulu meraih prestasi ‘trible’ itu, adalah Jenderal (Purn) Budiman, mantan KSAD 2013-2014.  Budiman peraih Adhi Makayasa sekaligus Trisakti Wiratama Akmil 1978. Ia berasal dari Korps Zeni. Juga lulusan terbaik Seskoad 1994 dan lulusan terbaik Sesko TNI tahun 2001.

Sumber: republika.co.id

Ada pula Kolonel (Infanteri) Lucky Avianto. Lucky peraih Adhi Makayasa Akmil 1996. Namun tidak sekaligus meraih Tri Sakti Wiratama. Peraih Tri Sakti Wiratama Akmil 1996, Kolonel Bambang Sugiri. Ia berasal dari Korps Perhubungan (teknik elektro).

Lucky juga lulusan terbaik Seskoad tahun 2011. Lulusan terbaik Sesko TNI tahun 2019 lalu. Ia juga berlatar belakang Kopassus. Kini Lucky sedang menunggu penempatan jabatan.

Dalam sejarah TNI, hanya tiga orang ini yang bisa meraih trible. Prestasi langka. Yakni: Jenderal (Purn) Budiman, Brigjen Bambang Trisnohadi, dan Kolonel (Infanteri) Lucky Avianto.

Bukan jaminan
Peraih Adhi Makayasa Akmil 1991, Mayjen Teguh Pudjo Rumekso (Infanteri). Kini ia menjabat Komandan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Danpus Penerbad). Peraih Tri Sakti Wiratama Akmil 1991, Brigjen Eko Susetyo (Kavaleri). Kini menjadi kepala kelompok staf ahli (kapok sahli) Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Dan Pusterad).

Sedangkan peraih Adhi Makayasa sekaligus Tri Sakti Wiratama Akmil 1990, Mayjen Nyoman Cantiasa (Infanteri). Kini Cantiasa sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus. Kemudian peraih Adhi Makayasa Akmil 1995 adalah Kolonel  (Infateri) Djon Afriandi. Berlatar Kopassus, kini ia menjadi Koordinator Staf Pribadi KSAD. Sedangkan peraih Trisaksi Wiratama, Kolonel (Infanteri) Teguh Pudji Raharjo. Kini sebagai perwira penuntun (patun) Seskoad.   

Peraih Adhi Makayasa sekaligus Tri Sakti Wiratama Akmil 1997, Kolonel (Infanteri) Rudy Saladin. Perwira Kostrad itu, kini sebagai ajudan Presiden Jokowi. Peraih Adhi Makayasa sekaligus Tri Sakti Wiratama  Akmil 1998, Kolonel (Infanteri) Dwi Sasongko. Kini menjadi Komandan Satuan Tugas RCB Kontingen Garuda 39-A di Kongo. Peraih Adhi Makayasa sekaligus Tri Sakti Wiratama  Akmil 1999, Letnan Kolonel (Kavaleri) M Iftitah Sulaiman S. Kini sebagai  asisten sekretaris pribadi presiden.

Segelintir
Yang menarik sejak 1990, peraih Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama, penempatan pertamanya sebagai perwira, umumnya di Kostrad atau Kopassus. Hanya beberapa saja yang ditempatkan di luar Kopassus maupun Kostrad.

Misalnya: Adhi Makayasa 1991, Teguh Pudjo Rumekso, mengawali karier di Yonif 512 Kodam Brawijaya.  Tetapi, peraih Tri Sakti Wiratama, Eko Susetyo, mengawali karier di Yonkav 8 Divif 2 Kostrad.

Adhi Makayasa 1992, Erwin Djatniko, mengawali karier di Yonkav 3 Kodam Brawijaya.  Namun, peraih Tri Sakti Wiratama, Adisura Firdaus Tarigan, mengawali karier di Yonzipur 9 Divif 1 Kostrad.

Memang bukan jaminan peraih Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama akan mulus kariernya. Tetapi peluang mereka untuk menjadi perwira tinggi terbuka lebar jika tidak memiliki masalah dalam kedinasan, baik disiplin maupun tindakan hukum.

Selain prestasi di bidang pendidikan, tentu saja ada penilaian lain. Misalnya kinerja, loyalitas, dedikasi terhadap tugas dan pengabdian pada satuan, bangsa, serta negara. 

Hanya hitungan jari, peraih Adhi Makayasa yang bisa menjadi KSAD. Di antaranya Jenderal (Purn) Edi Sudradjat (Akmil 1960), Jenderal (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo (Akmil 1974), Jenderal (Purn) Budiman (Akmil 1978), serta Jenderal (Purn) Moeldoko (Akmil 1981). 

Jadi hanya empat orang saja peraih Adhi Makayasa yang bisa menjadi KSAD. Serta satu orang menjadi Panglima TNI, yakni Moeldoko.

Darah Biru
Selain peraih Adhi Makayasa maupun Tri Sakti Wiratama, ada jabatan ‘darah biru’ yang bisa memperlancar karier menjadi perwira tinggi. Jabatan itu berada di sekeliling istana presiden. Di antaranya: komandan Grup A Paspampres, ajudan presiden, maupun sekretaris militer presiden.

Grup A Paspampres memiliki tugas melaksanakan pengamanan fisik langsung jarak dekat setiap saat terhadap presiden beserta keluarganya. Begitu istimewanya Komandan Grup A dan ajudan presiden. Banyak yang berada di posisi itu, karena tugasnya, akhirnya tidak melewati jenjang pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI.  Di Polri disebut Sekolah Staf Pimpinan Tinggi (sespimti).

Memang bukan berarti yang menjadi ajudan presiden maupun komandan Grup A tidak memiliki kemampuan akademik yang bagus, sehingga tidak mengikuti Sesko TNI. Salah satu prasyarat menjadi perwira tinggi.

Karena itu pula mereka kerap disebut memiliki ‘darah biru’. Berpeluang menjadi jenderal tanpa mengikuti jenjang Sesko TNI. Termasuk tanpa melalui seleksi menjadi Komandan Korem.

Seperti yang terjadi pada Brigjen Tri Budi Utomo yang kini menjadi Komandan Korem Wijayakrama. Lulusan Akmil 1994 itu melewati dua penerima Adhi Makayasa dan Tri Sakti Wiratama. Tri Budi sebelumnya Komandan Grup A Paspampres. Ia juga pernah menjadi Komandan Satuan 81 Kopassus.

Berikut nama-nama yang pernah menjadi Komandan grup A Paspampres era Presiden Jokowi; Kolonel (Infanteri) Maruli Simanjuntak, Kolonel (Infanteri) Mohamad Hasan, Kolonel (Infanteri) Tri Budi Utomo,  Kolonel (Infanteri) Achurudin.

Nama-nama yang pernah menjadi Komandan Paspampres era Presiden Jokowi; Mayjen Andika Perkasa, Mayjen (Mar) Bambang Suswantono, Mayjen (Mar) Suhartono, Mayjen Maruli Simanjuntak. Ajudan Presiden Jokowi dari TNI AD; Kolonel (Infanteri) Widi Prasetjono, Kolonel (Infanteri) Dedi Suryadi, Kolonel (Infanteri) Rudy Saladin.  

Sedangkan yang pernah menjadi sekretaris militer presiden era Jokowi; Laksamana Muda Tri Wahyudi Sukarno, Marsekal Muda Hadi Tjahjanto, Marsekal Muda Trisno Hendradi, dan Mayor jenderal Suharyanto.

Artikel ini telah tayang pada 13 Mei 2020 dengan judul “Adhi Makayasa dan Tentara Darah Biru” pada link https://republika.co.id/berita/qa9q2o282/adhi-makayasa-dan-tentara-darah-biru-part1. Red: Karta Raharja Ucu

Tinggalkan Balasan